Selasa, 16 Juli 2013

Tukang Sol Sepatu

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil. Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan. Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap. “Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan. “Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh. “Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas. “Alhamdulillah, itu harus disyukuri.” “Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal. “Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum. “Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur. “Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya. Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat. “Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.” Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut. Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti, “Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.” Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata, “Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.” “Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum. “Abang yakin?” “Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan. “Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap. “Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah. Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa. “Apa kabar mang Udin?” “Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan. Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata, “Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.” “Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran. “Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi. Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi, “Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?” “Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum. Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh. “Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar. Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan. “Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh. “Tidak.” “Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.” Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum. “OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca. “Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.” Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimis bahwa hidup akan lebih baik.

Hal Kecil Yang Disebut Cinta

Mungkin terpengaruh dari tontonan televisi, di mana disebut cinta kalau sudah melewati tidak diijinkan orang tua terlebih dahulu, kemudian tiba-tiba menemukan jalan yang bisa mempersatukan keduanya. Disebut cinta juga, kalau mendadak bertemu di stasiun kereta, kemudian jatuh cinta. Atau, disebut cinta kalau tadinya benci setengah mati, kemudian diam-diam suka. Ternyata, bukan itu yang namanya cinta! Kalau selama ini bayangan orang melambung yang megah-megah soal cinta, pantas saja akhirnya jarang di antara mereka yang bisa bertahan bahagia. Kebanyakan malah jatuh terpuruk, dan menemukan hati yang terluka. Singkat kata, mengaku TIDAK BAHAGIA. TIDAK DICINTAI. Terlalu berharap. Mungkin itulah yang sebenarnya terjadi pada orang yang jatuh cinta. Semua bayangan yang ada di benak itu membuat buta, sampai-sampai cinta yang sebenarnya tak pernah disadari. Dan kalau mata saya terbuka melalui sebuah postingan teman, saya juga ingin semua mata terbuka akan apa itu cinta sebenarnya. Membuka sebuah akun Facebook milik teman, nyaris setiap hari postingannya diisi dengan hal-hal yang sederhana. Hal-hal kesehariannya, entah membuat kue, entah pergi ke pasar, yang jelas hampir semua wanita melakukan hal yang sama. Lantas apa yang istimewa dari postingannya? Beberapa postingan tersebut menceritakan bagaimana suami dan ibu mertuanya meninggalkan beberapa catatan kecil atau hadiah-hadiah kecil untuknya, tidak mahal. Mungkin hanya berbekal tepung terigu dan sedikit adonan cokelat saja sudah jadi hadiah buatnya. Terkadang juga disertai dengan bunga dan setoples atau sepiring kue. Sederhana kan? Rasanya seperti hal yang biasa. Iya, awalnya saya juga berpikir demikian. Sampai pada akhirnya saya berpikir, kenapa itu jarang ditemui di negri sendiri yang katanya memegang erat adat ketimuran dan tahu tata krama ini? Kenapa hal sekecil itu justru gengsi dilakukan? Gengsi menunjukkan kasih sayang, gengsi menunjukkan cinta. Ah, coba saja amati bagaimana saat anak mantu dan mertua bertemu, di depan semua orang bisa saja bersikap baik-baik. Namun, kalau sudah saling memunggungi, yang ada adalah bahan gosip, saling menjelekkan satu sama lain. Akui saja bahwa itu masih terjadi di sekitar kita. “Menantuku itu pemalas, kerjanya hanya main BB saja…” kemudian suatu kali disambung oleh si menantu, “Mertuaku itu bawel, kerjaannya ngurusin rumah tangga orang saja…” Di sana, di keluarga ‘baru’ sahabat saya. Perlakuan mertua sangat hangat pada menantu, diam-diam memberikan kejutan setangkai bunga, diam-diam sudah membuatkan sepiring kue. Demikian juga perlakuan suami pada istri dan sebaliknya, sederhana namun tetap manis. Harganya mungkin tidak bisa disetarakan dengan harga mobil mewah atau rumah. Tetapi, perlakuan setiap hari yang seperti itu membuat rumah tangga jadi adem ayem. Membuat diri sendiri merasa dicintai. Membuat kebahagiaan itu rasanya mutlak, dan ya inilah yang disebut dengan bahagia. Yang mirisnya, jarang ditemui di tanah air. Dan kalau lewat hal-hal kecil yang bisa membuat orang merasa dicinta itu orang bisa bahagia, kenapa sih kita tidak mulai melakukannya? Kenapa kita harus berpikir bisa membelikan suatu barang mewah baru membuat orang bahagia? Buang semua khayalan muluk-muluk yang justru membuat mata buta akan cinta. Cinta itu dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap harinya. Cinta itu dimulai dari hal-hal remeh yang mungkin gengsi untuk dilakukan. Cinta itu dimulai dari ucapan terima kasih atau maaf. Cinta itu dimulai dari senyuman pagi atau pelukan pada yang terkasih. Cinta itu mudah sekali didapatkan dari hal-hal kecil, dan murah sekali mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan. Syaratnya satu, jangan pejamkan mata lagi dan lakukan setiap hal kecil dengan cinta.

Arti Sahabat

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya… Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Aku Bisa Secantik Mereka Yang Sempurna (Isabelle Papandronicou)

Semua orang ingin memiliki tubuh yang sempurna, dan bisa berjalan ke sana kemari seperti selayaknya. Kaki adalah salah satu bagian tubuh yang penting, dan tidak akan tergantikan dengan apapun juga. Namun takdir berkata lain, kaki gadis cantik ini harus diamputasi karena terkena penyakit berbahaya. Sejak itu, hidupnya berubah. Tidak ada lagi dua kaki jenjang sempurna. Yang ada satu kaki saja, namun Isabelle Papandronicou tidak menyerah dan putus asa. Penyakit merenggut satu kakiku Isabelle Papandronicou, gadis berusia 15 tahun ini harus menerima kenyataan pahit bahwa salah satu kakinya harus diamputasi. Tidak pernah terbayang sebelumnya, penyakit menggerogoti tubuhnya dan membuatnya harus kehilangan salah satu anggota tubuh yang berharga. Isabelle menangis dan ketakutan. Bagaimana bila dirinya tidak bisa berjalan lagi? Bagaimana bila teman-temannya menjauhi dan tidak ada lagi laki-laki yang mau mencintainya? Kedua orang tuaku memelukku erat Tidak hanya Isabelle, ayah dan ibunya juga sedih dengan keputusan amputasi kaki putri mereka tercinta. Ibunda Isabelle berusaha menguatkan hati buah hatinya, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ayah dan ibu Isabelle tidak kenal lelah mencari solusi agar gadis cantik mereka tidak harus seumur hidup berada di kursi roda. “Kamu akan tetap bisa berjalan, sayang. Percayalah” ucap Ibu Isabelle sembari memeluk Isabelle erat. Tanpa terasa, air mata meleleh di pelupuk kedua wanita itu. Keajaiban datang, Isabelle bisa mendapatkan ‘kaki’ lagi. Mereka menyebutnya kaki palsu. Aku menyebutnya harapan baru Dokter memberitahu Isabelle bahwa kakinya bisa diberi ‘kaki baru’. Kaki baru ini adalah kaki palsu yang dibuat menyesuaikan bentuk kaki Isabelle, sama persis dengan kaki Isabelle yang satunya. Isabelle begitu bahagia, begitu juga kedua orang tuanya. Walau harus mengeluarkan biaya £5,600 atau setara dengan 60 juta rupiah, namun kaki ini adalah harapan bagi Isabelle untuk bisa berjalan lagi seperti biasa. Walau kakiku palsu, aku tetap menawan di pesta dansa sekolah Tidak lama setelah kaki baru Isabelle terpasang, sekolahnya mengadakan Prom Night. Prom night atau pesta dansa sekolah ini dinantikan oleh seluruh siswa, tak terkecuali Isabelle. Gadis ini sudah membeli high heels untuk prom dan sudah diimpikannya untuk dipakai. Harapan Isabelle sempat patah saat kakinya harus diamputasi. Tapi kini Isabelle bisa mengenakan high heels impiannya, memakai gaun merah panjang mempesona. Isabelle Papandronicou memang kehilangan kakinya. Namun dia tidak kehilangan semangat dan rasa percaya dirinya. Walau menggunakan kaki palsu, Isabelle tidak minder dan merasa bahwa dirinya cantik seperti biasanya. Yuk bersyukur dengan kondisi fisik yang sudah lengkap ladies. Because you’re amazing, just the way you are. sumber:http://inspirasi.lintas.me/go/motivasikeren.com/aku-bisa-secantik-mereka-yang-sempurna